Teori Kepribadian Sehat Menurut Para Ahli


Tugas Mata Kuliah Kesehatan Mental, Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas 45 Yogyakarta.

Nama                          : DWI RATRI OCTAVIANITA

NIM                            : 20310410002

Dosen Pengampu        : Fx. Wahyu Widiantoro, S.Psi., M.A



Tujuh Teori Kepribadian Sehat Menurut Para Ahli


Konsep kepribadian sehat sangatlah penting bagi kehidupan manusia, karena konsep tersebut menggambarkan topik yang berusaha mancakup kepribadian manusia. Terdapat tujuh orang ahli psikologi yang memaparkan tujuh model kepribadian sehat. Berikut ini akan dipaparkan rangkuman model-model kepribadian sehat dari beberapa ahli.

 

1.    Gordon Willard Allport

Menurut Allport, orang yang berkepribadian sehat adalah orang yang matang. Orang yang matang akan selalu melihat ke masa depan, mengejar tujuan-tujuan, harapan-harapan, dan impian-impian secara aktif. Allport mengatakan bahwa kehidupan orang yang sehat senantiasa dibimbing oleh suatu perasaan adanya maksud yang baik, dedikiasi yang matang, dan komitmen yang kuat. Allport mengatakan bahwa ada beberapa kriteria kepribadian yang matang, yaitu: (1)perluasan perasaan diri, (2)hubungan diri yang hangat dengan orang-orang lain, (3) keamanan emosional, (4)persepsi realistis, (5)keterampilan-keterampilan dan tugas-tugas, (6)pemahaman diri, serta (7)filsafat hidup yang mempersatukan (Yoanita, 2011)

 

2.    Carl Ransom Rogers

Menurut Roger, pribadi yang sehat ialah pribadi yang dapat berfungsi sepenuhnya. Rogers mengungkakan bahwa dalam diri setiap manusia terdapat sebuah inti yang secara esensial memiliki tujuan, bergerak maju, konstruktif, realistis dan dapat diandalkan. Rogers percaya bahwa manusia mempunyai kecenderungan bawaan untuk mengaktualisasi diri yang apabila dibebaskan menyebabkan manusia berusaha untuk kesempurnaan dirinya. Menurutnya, kehidupan yang baik adalah saat seseorang memiliki tujuan untuk memenuhi semua potensi yang ia miliki sepenuhnya secara terus menerus. Beberapa karakteristik dari orang yang berfungsi sepenuhnya adalah: (1)meningkatnya keterbukaan terhadap pengalaman, (2)kecenderungan terhadap hidup yang eksistensial, (3)meningkatnya kepercayaan pada organism, (4)kebebasan memilih, (5)kreativitas, (6)konstruktif dan terpercaya, serta (7)kehidupan yang kaya warna (Amalia, 2013).

 

3.    Erich Fromm

Menurut From, orang yang memiliki kepribadian sehat ialah orang yang dapat mengarahkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan eksistensialnya sebagai manusia. Untuk memenuhi kebutuhan eksistensialnya, manusia mengembangkan kebutuhan-kebutuhan yang merepresentasikan ciri-ciri kemanusiaannya yang khusus. Ada empat kebutuhan yang mencerminkan begitu jelas mengenai dua kebutuhan rangkap manusia untuk menjadi bagian dari sesuatu dan untuk mandiri. Kebutuhan tersebut adalah relatedness-rootedness (berhubungan dan berakar), transdensi, unity (kesatuan), dan identitas. Selain kebutuhan tersebut, ada serangkaian kebutuhan kedua yang meliputi kebutuhan untuk memberi makna pada dunia tempat kita hidup, untuk memiliki kegunaan atau tujuan, serta untuk menggunakan ciri-ciri unik kita. Kebutuhan tersebut adalah a frame of orientation (kerangka orientasi), a frame of devotion (kerangka ketaatan), stimulation-excitation (stimulasi kegembiraan), dan efektivitas. Kebutuhan eksistensial biasa dikenal melalui bagaimana seseorang memaknai tujuan hidupnya. Jadi, jika tujuan hidup manusia dapat mencakup semua kebutuhan eksistensialnya, maka manusia tersebut mengarah pada derajad kesehatan yang semakin tinggi (Siswanto, 2007). Fromm menggambarkan masyarakat sehat sebagai suatu keadaan yang sejalan dengan kebutuhan manusia dan berakar dari dalam kondisi kosistensinya. Masyarakat sehat adalah suatu masyarakat yang manusianya saling menjalin hubungan dengan cinta, dalam ikatan persaudaraan dan solidaritas, bukan dalam ikatan-ikatan darah atau tanah air. Lebih dalam lagi, Fromm menggambarkan individu yang sehat memiliki ciri utama yaitu adanya produktivitas. Fromm menambahkan empat segi dalam kepribadian sehat yaitu cinta yang produktif, pikiran yang produktif, kebahagiaan, dan suara hati (Kumari, 2015). 

 

4.    Abraham Harold Maslow

Menurut Maslow, pribadi yang sehat ialah orang yang dapat mengaktualisasikan dirinya. Orang yang mengaktualisasikan dirinya adalah orang yang telah memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar dan menengahnya sehingga ia bisa mulai mengambil tingkah laku yang menggambarkan bahwa ia menuju tahap pengaktualisasian dirinya. Hierarki kebutuhan itu di antaranya: (1) kebutuhan-kebutuhan fisiologis; (2) kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman; (3) kebutuhan- kebutuhan akan memiliki dan cinta; (4) kebutuhan-kebutuhan akan penghargaan; (5) kebutuhan-kebutuhan kognitif; (6) kebutuhan-kebutuhan estetik; dan (7) kebutuhan-kebutuhan akan aktualisasi diri. Individu yang telah sampai pada tingkatan aktualisasi-diri (self-actualization) adalah individu yang telah bergerak maju melewati hirarki kebutuhan (hierarchy of needs), memegang erat-erat terhadap B-values atau metamotivation, bebas dari metapatologi (metapathology), dan memenuhi kebutuhan untuk bertumbuh, berkembang, sesuai dengan seluruh potensi yang dimiliki (Hadori, 2015). 

 

5.    Carl Gustav Jung

Menurut Jung, pribadi yang sehat adalah pribadi yang terindividuasi. Individuasi adalah pengintregasian kepribadian yang merupakan hakekat kodrati manusia. Menurutnya, individu yang berkepribadian sehat tidak lagi terikat dengan defense mechanism-nya (mekanisme bela ego) dan mampu mencari cara-cara kreatif untuk mengatasi persoalan yang dialaminya (Siswanto, 2007). Jung menyatakan bahwa manusia selalu maju atau mengejar kemajuan, dari taraf perkembangan yang kurang sempurna ke taraf yang lebih sempurna. Manusia juga selalu berusaha mencapai taraf diferensiasi yang lebih tinggi. Menurut Jung, tujuan perkembangan kepribadian adalah aktualisasi diri, yaitu diferensiasi sempurna dan saling hubungan yang selaras antara seluruh aspek kepribadian. Dalam proses perkembangan kepribadian dapat terjadi gerak maju (progresi) atau gerak mundur (regresi). Progresi adalah terjadinya penyesuaian diri secara memuaskan oleh aku sadar baik terhadap tuntutan dunia luar mapun kebutuhan-kebutuhan alam tak sadar. Apabila progresi terganggu oleh sesuatu sehingga libido terhalangi untuk digunakan secara progresi maka libido membuat regresi, kembali ke fase yang telah dilewati atau masuk ke alam tak sadar.  Pada akhirnya menurut Jung, untuk mencapai kepribadian yang sehat dan terintegrasi secara kuat,  maka setiap aspek kepribadian harus mencapai taraf diferensiasi dan perkembangan yang optimal. Proses untuk sampai ke arah tersebut oleh Jung dinamakan proses individuasi atau proses penemuan diri (Ja’far, 2015). 

 

6.    Victor Emil Frankl

Menurut Frankl, orang yang memiliki kepribadian sehat ialah orang yang dapat mengatasi diriOrang yang mengatasi diri adalah orang yang memiliki orientasi ke masa depan, mampu memberi dan menerima cinta, serta memiliki komitmen terhadap pekerjaan. Orang yang memiliki orientasi ke masa depan, mengarah pada tujuan-tujuan dan tugas-tugas yang akan datang. Sedangkan orang yang mampu memberi dan menerima cinta, ialah yang apabila dicintai, ia akan menjadi orang yang sangat diperlukan, lalu saat dia mencintai, ia dapat membuat orang yang dicintainya sanggup merealisasikan potensi-potensi yang belum dimanfaatkan dengan menyadarkan mereka tentang potensi diri mereka. Sementara orang yang memiliki komitmen terhadap pekerjaan, dapat memperoleh arti dari kehidupan/ kebermaknaan hidup. Pencarian kebermaknaan hidup yang unik merupakan motif yang melekat pada diri tiap manusia. Kebermaknaan hidup dapat dicapai melalui nilai kreatif, pengalaman, dan sikapFrankl menamakan sistem terapi atau teorinya dengan sebutan logotherapy. Kata ini berasal dari bahasa Yunani “logos” yang dapat diartikan sebagai “arti”(meaning) dan terapi. Logoterapi mengatakan bahwa hakikat dan keberadaan manusia untuk hidup adalah untuk menemukan arti dalam hidupnya. Logoterapi sebenarnya adalah suatu metode psikoterapi yang dikembangkan oleh Frankl untuk membantu pasiennya menemukan arti dalam hidupnya (Sumanto, 2006).

 

7.    Friedrich Salomon Perls

Menurut Perls pada teori gestaltnya, bahwa  indivudu yang sehat ialah individu yang hidup di sini dan sekarang ini (Siswanto, 2007). Orang-orang dengan kepribadian sehat tidak hidup di masa lampau dan di masa depan. Gestalt Perls juga berpandangan bahwa, tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang” karena masa lampau telah pergi dan masa depan belum datang, maka saat sekaranglah yang penting. Perls mengatakan bahwa kita harus hidup sepenuhnya pada masa sekarang, kita tidak boleh hidup pada masa lampau (watak retrospektif) juga tidak hidup pada masa depan (watak prospektif). Akan tetapi, kita boleh mengingat masa lampau untuk mengambil hikmah/pelajarannya dan juga boleh membuat rencana-rencana untuk masa depan, tetapi fokus utama perhatian kita adalah di masa kini, karena satu-satunya yang nyata adalah masa kini (Rahman, 2017).

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Siswanto. (2007). Kesehatan Mental: Konsep, Cakupan, dan Perkembangannya. Yogyakarta: Penerbit ANDI.

 

Yoanita, Ika. (2011)Kepribadian tokoh utama “ketika cinta bertasbih” episode 1 karya habiburrahman el shirazy berdasarkan teori goldon allport. Jurnal Artikulasi,12(2), 771-772. Diakses dari

http://ejournal.umm.ac.id/index.php/jib/article/viewFile/1258/1347ummscientificjournal.pdf  pada tanggal 21 November 2020 pukul 13.52 WIB.

 

Amalia, Lia. (2013). Menjelajahi diri dengan teori kepribadian carl r. Rogers. Jurnal Muaddib,3(1), 8-11. Diakses dari                               

http://journal.umpo.ac.id/index.php/muaddib/article/download/75/65  pada tanggal 21 November 2020 pukul 13.55 WIB.

 

Kumari, Fatrawati. (2015). Strategi budaya dalam filsafat erich fromm. Khazanah Jurnal Studi Islam dan Humaniora,13(2),193-194. Diakses dari

 http://jurnal.uinantasari.ac.id/index.php/khazanah/article/downloadSuppFile/766/23 pada tanggal 21 November 2020 pukul 13.59 WIB.

 

Hadori, Mohamat. (2015). Aktualisasi-diri (self-actualization); sebuah manifestasi puncak potensi individu berkepribadian sehat (sebuah konsep teori dinamika-holistik abraham maslow). Jurnal Lisan Al-Hal9(2), 212-219. Diakses dari

https://journal.ibrahimy.ac.id/index.php/lisanalhal/article/download/92/79/ pada tanggal 21 November 2020 pukul 14.05 WIB.

 

Ja’far, Suhermanto. (2015). Struktur kepribadian manusia  perspektif psikologi dan filsafat. Jurnal Ilmiah Psikologi2(2),216-217. Diakses dari

 https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/psy/article/download/461/469 pada tanggal 21 November 2020 pukul 14.10 WIB.

 

Sumanto. (2006). Kajian psikologis kebermaknaan hidup. Jurnal Bulletin Psikologi14(2),119-120. Diakses dari     

(https://jurnal.ugm.ac.id/buletinpsikologi/article/download/7490/5824  pada tanggal 21 November 2020 pukul 14.18 WIB.

 

Rahman, Imas Kania. (2017).  Gestalt profetik (g-pro) best practice pendekatan bimbingan dan konselingsufistik. Jurnal Bimbingan Konseling Islam8(1),155-156. Diakses dari 

https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/konseling/article/download/Imas%20Kania%20Rahman/pdf  pada tanggal 21 November 2020 pukul 14.23 WIB. 

 

 

 

 


Komentar